Tempat pemujaan di situs Pamujan.

Bumi Perwira belakangan ini terus dikenal sebagai daerah yang menyimpan warisan purbakala. Belasan situs telah ditemukan. Dan salah satunya adalah Situs Pamujan. Seperti namanya, situs ini terletak di dukuh Pamujan desa Dagan kecamatan Bobotsari.

Pamujan 3

Selalu di Tempat Tinggi

Siang itu, saya bersama salah seorang rekan journalist ditemani Adi Purwanto selaku arkeolog yang bertugas di Dinbudparpora Kabupaten Purbalingga sengaja mendatangi situs Pamujan.

Pamujan 1

Lokasinya sendiri terbilang mudah dicari. Dari pertigaan Pegadaian Bobotsari, kita bisa ambil arah utara dan terus saja mengikuti jalan, sampai kita menemukan papan nama di sebelah kiri jalan. Nah, papan ini terletak di depan sebuah tanjakan yang cukup tajam meski tidak terlampau panjang tracknya. Namun yang pasti tetap menguras energi buat saya. Karena bagaimanapun dukuh Mujan atau Pamujan tetaplah berupa daerah perbukitan.

Bukan tanpa alasan situs yang berupa Menhir ini ditempatkan di perbukitan. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat prasejarah yang menganggap jika roh nenek moyang berada di tempat-tempat yang tinggi. Seperti pegunungan maupun perbukitan. Jika ditemukan di dataran rendah, biasanya situs tersebut menghadap ke arah yang tinggi semisal menghadap ke gunung.

 

Merupakan Situs Hunian

Dalam kehidupannya, setiap manusia pasti menginginkan survive. Dan air (sumber air.red) dipercaya sebagai salah satu hal yang membuat manusia mampu bertahan hidup. Jadi tidaklah mengherankan jika sebuah situs yang ditinggali berdekatan dengan mata air. Entah itu sungai, laut ataupun sumber air lainnya.

Nah, di situs hunian inilah biasanya juga ditemukan sarana-sarana pemujaan”, ujar Adi Purwanto

Selain menhir, beberapa benda purbakala seperi gelang batu dan kapak batu pun ditemukan di sekitar menhir. Diperkirakan, benda-benda itu  juga memiliki fungsi semacam “sesaji”.

Rijang 1

Rijang hijau bahan pembuat gelang batu

Berkembangnya Sistem Kepercayaan

Pada masa itu, sistem kepercayaan mulai berkembang. “Orang ketika sedang susah, maka dia akan mencari kenapa dia susah. Dengan adanya bencana, gagal panen, musibah penyakit, dll maka manusia akan mencari apa penyebabnya. Dan setelahnya dia akan beranalogi, jika kesusahannya disebabkan karena kurangnya penghormatan terhadap mereka yang tidak terlihat (arwah nenek moyang / leluhur) ”, lanjut Adi Purwanto. Dan hal ini jugalah yang memunculkan upacara-upacara persemabahan kala itu.

Setelah munculnya kepercayaan ini, mereka merasa jika jarak antara manusia dnegan arwah nenek moyang ini begitu jauh. Sehingga tercetuslah penggunaan sarana / media untuk menghubungkan dengan arwah leluhur. Media tersebut dapat beruba arca, sesaji maupun batu. Sehingga munculnya MENHIR seperti yang ada di situs Pamujan ini.

 

 

Menhir Pamujan

Menhir merupakan tugu batu, terbuat dari lempengan batu yang ditanam kedalam tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir  (panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah. Menhir di Pamujan ini terdiri dari dua batu berjajar. Yang berukuran lebih besar & panjang akan disebut sebagai menhir utama. Sedangkan yang lebih pendek dikenal sebagai penyangga menhir utama. Diperkirakan bangunan ini digunakan untuk mengikat hewan kurban pada saat melakukan upacara  pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Para arkeolog mempercayai jika situs-situs seperti ini digunakan untuk tujuan religious dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan.

Ad dua menhir yang berhasil kami tengok. Satu disebuah lahan perkebunan dan yang satu berada di sisi sebuah jalan setapak. Lokasinya tidak berjauhan satu sama lain.

Dan masih menurut Adi Purwanto jika mereka sebenarnya tidak menyembah batunya tapi hanya sebatas tanda, karena disekitar batu ini terdapat upacara-upacara keagamaan yang menggunakan sesaji, kapak batu, gelang batu dan segala macam. Fungsinya bukan hanya sifat praktis tapi juga religi sebagai barang-barang persembahan.

Sementara itu dikutip dari VHRmedia, menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Purbalingga, Kuncoro, situs bersejarah tersebut diawasi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.

 

Pemerintah Kabupaten Purbalingga tidak menyediakan anggaran untuk perawatan situs purbakala tersebut. “Kami mengalokasikan anggaran hanya untuk pemeliharaan papan petunjuk,” kata Kuncoro. (nta)

 

Iklan

%d blogger menyukai ini: